si Pika dan si Piki
Alkisah ada 2 orang anak TK, namanya Pika dan Piki. Mereka berdua amat dekat dan bersahabat. Karena mereka berada pada 2 TK yang berlainan, maka setiap hari Piki selalu berharap Pika main ke TK-nya. Pika tahu Piki amat kesal apabila Pika tidak datang ke TK-nya walaupun hanya 1 hari saja. Padahal Pika pun ada banyak PR dari guru TK-nya.
Pika punya teman dekat, namanya Piko. Pika dan Piko sudah berjanji akan bertemu pada suatu hari, tepatnya di suatu sore.
Hari itu Pika datang ke TK Piki dari pagi, ternyata Piki sedang bermain ke tempat lain. Pika pun menunggu, sambil selalu mengecek ke teman-teman Piki hampir setiap saat. Jaman sudah modern, namun Pika yang kebetulan pegang HP, sangat kurang beruntung karena pulsanya hari itu habis. Ia hanya melihat-lihat saja signal di Hpnya. Mungkin saja Piki menelepon. Ia tetap berusaha agar signalnya tetap ada, meskipun di tempat TK Piki sangat susah mencari signal. Ia pun berharap ada pesan singkat yang masuk di Hpnya.
Menunggu dari tepat jam 12 siang, Pika akhirnya bosan dan mengikuti salah satu pelajaran di sekolah tersebut jam 3, meskipun dengan perasaan kangen yang teramat meskipun sudah kemurniannya tinggal 1% karena sisanya dipenuhi dengan rasa campur aduk.
Pika mendengar bunyi telepon jam 5 kurang. Ia agak ragu-ragu karena tepat dibelakangnya ada guru yang sedang berdiri. Dengan segala macam resiko, akhirnya Pika mengangkat telepon tersebut, berharap bisa bertemu dan menghabiskan waktu lebih lama dengan Piki.
Ternyata benar, Pika pun seolah melupakan apa yang telah dialaminya sejak pagi tadi. Karena ingin bersama Piki lebih lama, maka ia membatalkan janjinya dengan Piko. Kebetulan hari itu hujan, dan Piki memberitahu Pika kalau ia tidak akan langsung pulang.
Piki izin kepada Pika kalau akan menaruh tas di mobilnya sebentar. Setidaknya itulah yang didengar Pika. Pika pun membiarkan Piki berlalu sambil menunggu memandang jalanan yang mulai banjir.
Pika menunggu, menunggu, dan menunggu. Ia berusaha meyakinkan kalau ia tidak salah dengar tadi. Terus menunggu, menunggu, dan menunggu. Lagi-lagi ia meyakinkan diri kalau Piki tidak izin mau pulang tadi.
Pika menunggu lebih lama, mengira-ngira kalau Piki sedang merapihkan barang-barangnya di mobil.
Pika terus menunggu. Setengah jam pun berlalu. Adzan magrib terdengar. Jalan sudah tidak hujan lagi. Pika berniat mengajak Piki untuk sholat terlebih dahulu. Pika keluar dari gedung TK Piki, lalu ke parkiran mobil dimana mobil Piki diparkir.
Pika tidak menemukan mobil Piki diparkir ditempat yang biasa. Ia pun mengelilingi tempat parkir dua kali sampai akhirnya Pika terduduk, seolah tidak percaya apa yang telah dialaminya hari ini..
Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya).
Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul.
Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.
Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah!
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…
Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…
Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal…
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…
…dan Ami kemudian pingsan…
Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.
Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.
Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.
Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.
Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.
Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.
…tiga bulan kemudian…
Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.
Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.
Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.
Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman.
Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.
Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.
Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.
Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.
Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.
…beberapa bulan setelah menikah…
Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman.
Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.
Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…
Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.
Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya.
KACA MATA RERE
“Re, kenapa elo enggak percaya dengan perkataan gue? Apakah cinta itu harus tumbuh karena keindahan fisik semata? Enggak, Re. Elo punya kelebihan kepintaran. Satu anugerah yang sifatnya lebih abadi ketimbang kecantikan.”
Sudah setengah jam lebih Rere mematut diri di cermin dengan mengubah-ubah gaya rambutnya. Tapi, bagaimanapun rambut panjangnya diubah gaya, tetap saja tidak dapat menutupi ketebalan kacamata minus barunya itu. Ini membuat Rere kecewa.
“Ya, Tuhan… mengapa Kau berikan cobaan yang begitu berat ini padaku?” batin Rere. Hatinya benar-benar sedih karena minus matanya naik lagi, yang kiri satu dan yang kanan juga satu. Kini genaplah kedua matanya minus sepuluh. Uh! Makin tebal aja tuh kacamata.
Rere menyudahi juga mematut diri di cermin. Ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Meski hal-hal yang tak mengenakan terbayang dalam benaknya. Dengan kacamata minus barunya yang semakin tebal itu tentu Rere akan jadi bahan olok-olokan Bela `n gengnya. Bela `n gengnya itu emang benci banget dengan yang namanya Rere. Kebencian mereka kepada Rere lantaran sikap Rere yang mereka anggap sok idealis. Mentang-mentang murid paling pinter enggak pernah mau ngasih contekan. Tapi, yang lebih membuat Rere khawatir ialah tak ada cowok yang terpikat denganya lantaran kacamata tebalnya.
Airmata Rere meleleh. Kacamatanya itu serasa beban buatnya. Karena kacamatanya itulah sampai kini ia tak pernah memiliki pacar. Belum lagi di sekolah ia dijuluki si kacamata pantat botollah, si kutu bukulah. Tapi jika dijuluki si kutu buku itu memang tepat. Sejak kecil Rere memang hobi banget dengan yang namanya baca buku. Dari mulai komik, novel, sampai buku politik. Tak heran jika wawasan Rere melebihi rata-rata anak seusianya.“Re, kacamata lo ganti lagi ya?” tanya Dea saat berjalan menuju kantin sekolah. Rere mengangguk pelan.
“Pantesan keliatan makin tebal.”
Ah, yang dikhawatirkan Rere terbukti juga. Hanya dengan melihat sekilas saja ketebalan kacamatanya itu pasti kentara.
“Naik berapa, Re?”
“Dua.”
“Maksudnya yang kanan naik satu yang kiri naik satu, begitu?”
Rere kembali mengangguk lesu. Ia semakin tak bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.
“Gue heran, minus elo itu kok cepet banget sih naiknya. Coba deh elo rutin mengonsumsi wortel, mungkin minus mata elo bisa berkurang bahkan sembuh.”
Apa yang dikatakan Dea mungkin juga betul. Konon menurut orang-orang wortel dapat menurunkan minus. Tapi, Rere memang paling enggak seneng sama yang namanya wortel. Pernah suatu kali Rere muntah karena meminum jus wortel. Padahal, jus itu telah diberikan campuran madu dan buah-buahan lainnya.
Pada saat Rere dan Dea hendak masuk kantin Bela `n gengnya hendak masuk kantin juga.
“Eh, si kacamata pantat botol, apa kabar…?” Bela bertingkah genit dengan tangan digerak-gerakkan layaknya banci.
“Eh, si kutu buku aku kira siapa,” tegur salah seorang dari gengnya Bela itu.
Dea menarik lengan Rere ke dalam kantin. Dea tak ingin sahabatnya ini bertengkar dengan Bela `n geng. Tapi tiba-tiba saja Bela mencekal lengan Rere.
“Hai, kacamata lo ganti ya? Wah makin keren aja lo!” ucap Bela dengan mata berbinar. Rere tahu Bela memperoloknya. Rere berusaha sekuat mungkin menahan emosinya. Rere tak ingin berkelahi dengan Bela yang tomboi ini. Ya, enam bulan lalu Rere pernah berkelahi dengan Bela. Karena perkelahian itu Rere mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh dan kacamatanya pecah. Apalagi sekarang Bela ditemani gengnya, sama saja dengan bunuh diri“Riki si anak baru itu pasti deh langsung naksir elo,” celoteh yang lain. Kontan Bela `n gengnya itu tertawa terpingkal-pingkal. Hati Rere benar-benar sakit karena ejekan itu. Mana mungkin Riki anak baru di sekolah ini yang keren abis itu menyukainya. Di depan Bela `n geng Rere layaknya anak idiot.
Rere berlari keluar seraya menahan tangisnya. Rasa lapar diperutnya jadi hilang. Di belakang suara Dea terdengar memanggil-manggilnya di antara suara tawa tergelak milik Bela `n geng. Rere tak perduli. Rere masuk ke kelasnya. Di dalam kelasnya itulah Rere memuntahkan sakit hatinya dengan menangis.
Begitu bel pulang berbunyi, Rere segera memberesi buku-bukunya dan bergegas keluar. Rere tak ingin bertemu dengan Bela `n geng yang pastinya akan memperoloknya lagi. Di belakangnya Dea mengejar.
“Re, tunggu gue!”
Rere berhenti sejenak dan membalikkan tubuh. “Ayo, buruan….”
Dea berlari kecil menghampiri. “Re, elo mesti sabar, ya.”
Rere mengangguk. Memang hanya bersabarlah yang dapat Rere lakukan. Kedua sahabat ini berbincang-bincang dengan meneruskan perjalanan.
“Gue juga sedih dan marah ngeliat elo dipermainkan mereka. Bela `n gengnya itu emang keterlaluan. Tapi, baiknya elo cuekin aja omongan mereka, nanti juga mereka capek sendiri. Ejekan mereka itu `kan bukan yang pertama untuk elo. Seharusnya elo jadi kebal.”
“Gue malu banget saat mereka ngejek gue bakal ditaksir ama si Riki. Elo tau `kan si Riki itu cowok paling keren di sekolah kita. Masa dia mau naksir gue, itu sama aja dengan ngehina gue,” Rere berkata dengan berapi-api.
“Tapi, Re, mengenai Riki itu bisa aja terjadi.”
“Apa maksud elo?” Rere menghentikan langkahnya. Dea pun melakukan hal yang sama.
“Riki emang udah berapa kali nitip salam untuk elo ke gue. Hanya gue takut elo nganggap gue bohong kalo gue nyampein salamnya dia ke elo.”“Kanapa elo juga ngejek gue seperti itu?” Mata Rere mulai berkaca-kaca. Ia tak mengira sahabatnya ikut-ikutan memperoloknya. Dengan hati hancur Rere berjalan tergesah meninggalkan Dea. Dea hanya berdiri mematung di tempatnya. Dea benar-benar tak mengira Rere akan salah tanggap seperti itu.
Bukan hanya Bela `n geng yang dihindari Rere, tapi juga Dea. Setiap kali Rere mengangkat telepon rumahnya dan tahu itu dari Dea, pasti Rere langsung menutupnya. Rere tak mau dengar penjelasan apa pun dari Dea. Walau sebenarnya Rere pun tidak mengerti mengapa Dea berkata seperti itu.
Seperti di siang itu sepulang dari sekolah Rere tidak langsung pulang, ia malah pergi ke pameran berbagai prodak yang setiap tahunnya diadakan pemerintah daerah dan digelar selama sepuluh hari. Ketika Rere tengah berjalan-jalan di pameran itu, Rere melihat beberapa meter di depannya Dea tengah asyik memilih-milih tas akar hasil kerajinan tangan masyarakat Baduy. Segera Rere memutar langkah. Namun, Dea keburu melihatnya dan langsung memanggilnya. Rere tak peduli. Dengan berjalan cepat dan sesekali berlari kecil Rere menghindar.
Rere berjalan menuju pintu gerbang. Di belakangnya Dea masih mengejar. Di perempatan, Rere sengaja tak menempuh jalur yang menuju jalan raya, tapi menuju jalan menuju perumahan. Pada sebuah pintu gerbang perumahan Rere masuk. Di dalam perumahan yang lumayan besar itu seenaknya Rere memasuki blok demi blok. Ia berharap Dea kehilangan jejaknya.
Setelah cukup lama berputar-putar di perumahan itu dan setelah yakin Dea kehilangan jejaknya, Rere berniat keluar menuju jalan raya. Namun, Rere tak ingat ke arah mana jalan keluar. Sementara tak ada seorang pun yang dapat Rere tanyai.
Di saat Rere tengah kebingungan sebuah suara memanggilanya, “Re!”
Kepalanya Rere celingukan mencari asal suara.
“Re! Rere!” Panggilan itu bertambah kencang.
Di sebuah rumah bercat warna-warni yang hanya berjarak beberapa meter, Rere melihat seorang cowok yang memanggil-manggilnya. Cowok itu tersenyum kepadanya. Cowok itu adalah Riki. Rere balas tersenyum, namun terlihat kaku. Sejak kacamatanya semakin menebal sikap Rere pada lawan jenis memang jadi dingin. Sesunguhnya itu semua karena rasa minder Rere.
Riki berjalan keluar dari gerbang rumahnya menghampiri Rere. “Elo sedang ngapain di sini, Re?”
“E… anu,” Rere jadi bingung harus menjawab apa. “Abis dari rumah temen,” lanjut Rere berdusta.
“Temennya di blok apa?”
“Di blok O,” jawab Rere sekenanya.
“Kok ada di blok ini?”
“Sebenernya gue mau ke jalan raya, tapi kayaknya gue nyasar.”
Riki lagi-lagi tersenyum. Jantung Rere jadi berdebar-debar melihat senyuman itu. Ah, Riki memang tampan. Betapa bahagianya cewek yang dapat menjadi kekasihnya, batin Rere.
“Nanti gue anter. Sekarang mampir dulu, yuk,” ajak Riki.
“Aduh thanks deh, Rik. Gue mau pulang aja,” tolak Rere.
“Kenapa? Nanti gue anter deh, bukan hanya sampe jalan, tapi sampe ke rumah lo.”
Rere serasa tak mempercayai pendengarannya. Masa cowok sekeren Riki mau mengantarnya pulang.
“Udah deh, mampir dulu yuk,” Riki menarik lembut lengan Rere. Dengan jantung yang kian kencang berdebar, Rere mengikuti kemauan Riki.
Setelah keduanya duduk di bangku teras, Riki langsung melontarkan pertanyaan, “Eh, iya, Dea nyampein salam gue enggak?”
Rere terkejut. Ia tak mengira apa yang dikatakan Dea itu benar adanya.
“Nyampein enggak?” tanya Riki lagi.“Apa maksud elo nitip salam ke Dea untuk gue?” tanpa menjawab Rere malah balik tanya. Matanya menatap tajam ke wajah Riki.
“Elo mau gue berkata jujur?” Riki balas menatap mata Rere.
Rere mengangguk.
“Gue… gue suka elo.” Suara Riki terdengar bergetar.
“Bohong! Elo jangan coba permainkan gue, Rik!” Nada bicara Rere tiba-tiba meninggi.
“Kenapa, elo enggak percaya, Re?”
Rere bangkit dari duduknya dan bergegas mininggalkan tempat itu.
“Re, tunggu gue, Re.” Riki mengejar dan menangkap lengan Rere. “Kenapa elo? Elo enggak suka denger kejujuran hati gue?”
“Elo pasti ingin permainkan gue `kan?” Kedua mata Rere melotot.
“Swear.” Riki mengacungkan kedua jarinya.
Rere malah menangis. “Siapa yang ngebayar elo untuk ngelakuin sandiwara ini? Siapa Rik? Pasti Bela `n gengnya `kan?”
“Apa maksud elo, Re? Gue enggak ngerti.” Di raut wajah Riki terpancar rasa kebingungan.
“Elo pasti dibayar orang untuk mempermainkan perasaan gue. Elo buat gue geer terus elo akan hancurkan hati gue!”
“Gue masih enggak ngerti, Re….”
“Udah deh, Rik, elo jangan main sandiwara lagi. Enggak mungkin elo suka ama cewek kayak gue ini. Masih banyak cewek cantik yang mengharapkan elo. Sedangkan gue hanya cewek buruk berkacamata tebal.” Tangis Rere semakin menjadi.
Riki menyeka airmata Rere dengan dua ibu jarinya. “Re, kenapa elo enggak percaya dengan perkataan gue? Apakah cinta itu harus tumbuh karena keindahan fisik semata? Enggak, Re. Elo punya kelebihan kepintaran. Satu anugerah yang sifatnya lebih abadi ketimbang kecantikan. Re, elo percayakan kalo gue emang suka elo? Gue ingin punya pacar pintar seperti elo.”
Rere tetap saja menangis. Ia tak tahu perkataan Riki benar atau dusta. Namun, dalam hatinya Rere berdoa, semoga yang dikatakan Riki memang benar.
DYAH SHINTA K.
10
X-H
“Re, kenapa elo enggak percaya dengan perkataan gue? Apakah cinta itu harus tumbuh karena keindahan fisik semata? Enggak, Re. Elo punya kelebihan kepintaran. Satu anugerah yang sifatnya lebih abadi ketimbang kecantikan.”
Sudah setengah jam lebih Rere mematut diri di cermin dengan mengubah-ubah gaya rambutnya. Tapi, bagaimanapun rambut panjangnya diubah gaya, tetap saja tidak dapat menutupi ketebalan kacamata minus barunya itu. Ini membuat Rere kecewa.
“Ya, Tuhan… mengapa Kau berikan cobaan yang begitu berat ini padaku?” batin Rere. Hatinya benar-benar sedih karena minus matanya naik lagi, yang kiri satu dan yang kanan juga satu. Kini genaplah kedua matanya minus sepuluh. Uh! Makin tebal aja tuh kacamata.
Rere menyudahi juga mematut diri di cermin. Ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Meski hal-hal yang tak mengenakan terbayang dalam benaknya. Dengan kacamata minus barunya yang semakin tebal itu tentu Rere akan jadi bahan olok-olokan Bela `n gengnya. Bela `n gengnya itu emang benci banget dengan yang namanya Rere. Kebencian mereka kepada Rere lantaran sikap Rere yang mereka anggap sok idealis. Mentang-mentang murid paling pinter enggak pernah mau ngasih contekan. Tapi, yang lebih membuat Rere khawatir ialah tak ada cowok yang terpikat denganya lantaran kacamata tebalnya.
Airmata Rere meleleh. Kacamatanya itu serasa beban buatnya. Karena kacamatanya itulah sampai kini ia tak pernah memiliki pacar. Belum lagi di sekolah ia dijuluki si kacamata pantat botollah, si kutu bukulah. Tapi jika dijuluki si kutu buku itu memang tepat. Sejak kecil Rere memang hobi banget dengan yang namanya baca buku. Dari mulai komik, novel, sampai buku politik. Tak heran jika wawasan Rere melebihi rata-rata anak seusianya.“Re, kacamata lo ganti lagi ya?” tanya Dea saat berjalan menuju kantin sekolah. Rere mengangguk pelan.
“Pantesan keliatan makin tebal.”
Ah, yang dikhawatirkan Rere terbukti juga. Hanya dengan melihat sekilas saja ketebalan kacamatanya itu pasti kentara.
“Naik berapa, Re?”
“Dua.”
“Maksudnya yang kanan naik satu yang kiri naik satu, begitu?”
Rere kembali mengangguk lesu. Ia semakin tak bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.
“Gue heran, minus elo itu kok cepet banget sih naiknya. Coba deh elo rutin mengonsumsi wortel, mungkin minus mata elo bisa berkurang bahkan sembuh.”
Apa yang dikatakan Dea mungkin juga betul. Konon menurut orang-orang wortel dapat menurunkan minus. Tapi, Rere memang paling enggak seneng sama yang namanya wortel. Pernah suatu kali Rere muntah karena meminum jus wortel. Padahal, jus itu telah diberikan campuran madu dan buah-buahan lainnya.
Pada saat Rere dan Dea hendak masuk kantin Bela `n gengnya hendak masuk kantin juga.
“Eh, si kacamata pantat botol, apa kabar…?” Bela bertingkah genit dengan tangan digerak-gerakkan layaknya banci.
“Eh, si kutu buku aku kira siapa,” tegur salah seorang dari gengnya Bela itu.
Dea menarik lengan Rere ke dalam kantin. Dea tak ingin sahabatnya ini bertengkar dengan Bela `n geng. Tapi tiba-tiba saja Bela mencekal lengan Rere.
“Hai, kacamata lo ganti ya? Wah makin keren aja lo!” ucap Bela dengan mata berbinar. Rere tahu Bela memperoloknya. Rere berusaha sekuat mungkin menahan emosinya. Rere tak ingin berkelahi dengan Bela yang tomboi ini. Ya, enam bulan lalu Rere pernah berkelahi dengan Bela. Karena perkelahian itu Rere mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh dan kacamatanya pecah. Apalagi sekarang Bela ditemani gengnya, sama saja dengan bunuh diri“Riki si anak baru itu pasti deh langsung naksir elo,” celoteh yang lain. Kontan Bela `n gengnya itu tertawa terpingkal-pingkal. Hati Rere benar-benar sakit karena ejekan itu. Mana mungkin Riki anak baru di sekolah ini yang keren abis itu menyukainya. Di depan Bela `n geng Rere layaknya anak idiot.
Rere berlari keluar seraya menahan tangisnya. Rasa lapar diperutnya jadi hilang. Di belakang suara Dea terdengar memanggil-manggilnya di antara suara tawa tergelak milik Bela `n geng. Rere tak perduli. Rere masuk ke kelasnya. Di dalam kelasnya itulah Rere memuntahkan sakit hatinya dengan menangis.
Begitu bel pulang berbunyi, Rere segera memberesi buku-bukunya dan bergegas keluar. Rere tak ingin bertemu dengan Bela `n geng yang pastinya akan memperoloknya lagi. Di belakangnya Dea mengejar.
“Re, tunggu gue!”
Rere berhenti sejenak dan membalikkan tubuh. “Ayo, buruan….”
Dea berlari kecil menghampiri. “Re, elo mesti sabar, ya.”
Rere mengangguk. Memang hanya bersabarlah yang dapat Rere lakukan. Kedua sahabat ini berbincang-bincang dengan meneruskan perjalanan.
“Gue juga sedih dan marah ngeliat elo dipermainkan mereka. Bela `n gengnya itu emang keterlaluan. Tapi, baiknya elo cuekin aja omongan mereka, nanti juga mereka capek sendiri. Ejekan mereka itu `kan bukan yang pertama untuk elo. Seharusnya elo jadi kebal.”
“Gue malu banget saat mereka ngejek gue bakal ditaksir ama si Riki. Elo tau `kan si Riki itu cowok paling keren di sekolah kita. Masa dia mau naksir gue, itu sama aja dengan ngehina gue,” Rere berkata dengan berapi-api.
“Tapi, Re, mengenai Riki itu bisa aja terjadi.”
“Apa maksud elo?” Rere menghentikan langkahnya. Dea pun melakukan hal yang sama.
“Riki emang udah berapa kali nitip salam untuk elo ke gue. Hanya gue takut elo nganggap gue bohong kalo gue nyampein salamnya dia ke elo.”“Kanapa elo juga ngejek gue seperti itu?” Mata Rere mulai berkaca-kaca. Ia tak mengira sahabatnya ikut-ikutan memperoloknya. Dengan hati hancur Rere berjalan tergesah meninggalkan Dea. Dea hanya berdiri mematung di tempatnya. Dea benar-benar tak mengira Rere akan salah tanggap seperti itu.
Bukan hanya Bela `n geng yang dihindari Rere, tapi juga Dea. Setiap kali Rere mengangkat telepon rumahnya dan tahu itu dari Dea, pasti Rere langsung menutupnya. Rere tak mau dengar penjelasan apa pun dari Dea. Walau sebenarnya Rere pun tidak mengerti mengapa Dea berkata seperti itu.
Seperti di siang itu sepulang dari sekolah Rere tidak langsung pulang, ia malah pergi ke pameran berbagai prodak yang setiap tahunnya diadakan pemerintah daerah dan digelar selama sepuluh hari. Ketika Rere tengah berjalan-jalan di pameran itu, Rere melihat beberapa meter di depannya Dea tengah asyik memilih-milih tas akar hasil kerajinan tangan masyarakat Baduy. Segera Rere memutar langkah. Namun, Dea keburu melihatnya dan langsung memanggilnya. Rere tak peduli. Dengan berjalan cepat dan sesekali berlari kecil Rere menghindar.
Rere berjalan menuju pintu gerbang. Di belakangnya Dea masih mengejar. Di perempatan, Rere sengaja tak menempuh jalur yang menuju jalan raya, tapi menuju jalan menuju perumahan. Pada sebuah pintu gerbang perumahan Rere masuk. Di dalam perumahan yang lumayan besar itu seenaknya Rere memasuki blok demi blok. Ia berharap Dea kehilangan jejaknya.
Setelah cukup lama berputar-putar di perumahan itu dan setelah yakin Dea kehilangan jejaknya, Rere berniat keluar menuju jalan raya. Namun, Rere tak ingat ke arah mana jalan keluar. Sementara tak ada seorang pun yang dapat Rere tanyai.
Di saat Rere tengah kebingungan sebuah suara memanggilanya, “Re!”
Kepalanya Rere celingukan mencari asal suara.
“Re! Rere!” Panggilan itu bertambah kencang.
Di sebuah rumah bercat warna-warni yang hanya berjarak beberapa meter, Rere melihat seorang cowok yang memanggil-manggilnya. Cowok itu tersenyum kepadanya. Cowok itu adalah Riki. Rere balas tersenyum, namun terlihat kaku. Sejak kacamatanya semakin menebal sikap Rere pada lawan jenis memang jadi dingin. Sesunguhnya itu semua karena rasa minder Rere.
Riki berjalan keluar dari gerbang rumahnya menghampiri Rere. “Elo sedang ngapain di sini, Re?”
“E… anu,” Rere jadi bingung harus menjawab apa. “Abis dari rumah temen,” lanjut Rere berdusta.
“Temennya di blok apa?”
“Di blok O,” jawab Rere sekenanya.
“Kok ada di blok ini?”
“Sebenernya gue mau ke jalan raya, tapi kayaknya gue nyasar.”
Riki lagi-lagi tersenyum. Jantung Rere jadi berdebar-debar melihat senyuman itu. Ah, Riki memang tampan. Betapa bahagianya cewek yang dapat menjadi kekasihnya, batin Rere.
“Nanti gue anter. Sekarang mampir dulu, yuk,” ajak Riki.
“Aduh thanks deh, Rik. Gue mau pulang aja,” tolak Rere.
“Kenapa? Nanti gue anter deh, bukan hanya sampe jalan, tapi sampe ke rumah lo.”
Rere serasa tak mempercayai pendengarannya. Masa cowok sekeren Riki mau mengantarnya pulang.
“Udah deh, mampir dulu yuk,” Riki menarik lembut lengan Rere. Dengan jantung yang kian kencang berdebar, Rere mengikuti kemauan Riki.
Setelah keduanya duduk di bangku teras, Riki langsung melontarkan pertanyaan, “Eh, iya, Dea nyampein salam gue enggak?”
Rere terkejut. Ia tak mengira apa yang dikatakan Dea itu benar adanya.
“Nyampein enggak?” tanya Riki lagi.“Apa maksud elo nitip salam ke Dea untuk gue?” tanpa menjawab Rere malah balik tanya. Matanya menatap tajam ke wajah Riki.
“Elo mau gue berkata jujur?” Riki balas menatap mata Rere.
Rere mengangguk.
“Gue… gue suka elo.” Suara Riki terdengar bergetar.
“Bohong! Elo jangan coba permainkan gue, Rik!” Nada bicara Rere tiba-tiba meninggi.
“Kenapa, elo enggak percaya, Re?”
Rere bangkit dari duduknya dan bergegas mininggalkan tempat itu.
“Re, tunggu gue, Re.” Riki mengejar dan menangkap lengan Rere. “Kenapa elo? Elo enggak suka denger kejujuran hati gue?”
“Elo pasti ingin permainkan gue `kan?” Kedua mata Rere melotot.
“Swear.” Riki mengacungkan kedua jarinya.
Rere malah menangis. “Siapa yang ngebayar elo untuk ngelakuin sandiwara ini? Siapa Rik? Pasti Bela `n gengnya `kan?”
“Apa maksud elo, Re? Gue enggak ngerti.” Di raut wajah Riki terpancar rasa kebingungan.
“Elo pasti dibayar orang untuk mempermainkan perasaan gue. Elo buat gue geer terus elo akan hancurkan hati gue!”
“Gue masih enggak ngerti, Re….”
“Udah deh, Rik, elo jangan main sandiwara lagi. Enggak mungkin elo suka ama cewek kayak gue ini. Masih banyak cewek cantik yang mengharapkan elo. Sedangkan gue hanya cewek buruk berkacamata tebal.” Tangis Rere semakin menjadi.
Riki menyeka airmata Rere dengan dua ibu jarinya. “Re, kenapa elo enggak percaya dengan perkataan gue? Apakah cinta itu harus tumbuh karena keindahan fisik semata? Enggak, Re. Elo punya kelebihan kepintaran. Satu anugerah yang sifatnya lebih abadi ketimbang kecantikan. Re, elo percayakan kalo gue emang suka elo? Gue ingin punya pacar pintar seperti elo.”
Rere tetap saja menangis. Ia tak tahu perkataan Riki benar atau dusta. Namun, dalam hatinya Rere berdoa, semoga yang dikatakan Riki memang benar.
DYAH SHINTA K.
10
X-H





